BANTEN — Laga lanjutan Grup A Piala AFF 2026 akan mempertemukan kedua rival abadi ini di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, pada Senin (3/8). Bagi Indonesia, duel kontra Vietnam selalu punya aroma tersendiri—lebih dari sekadar perebutan tiga poin, ini soal gengsi dan dendam atas hasil minor di turnamen sebelumnya.
Catatan historis menunjukkan keduanya saling mengalahkan. Dari 13 bentrokan di Piala AFF, Indonesia dan Vietnam sama-sama mengoleksi empat kemenangan, sementara lima laga lainnya berakhir imbang. Angka ini menegaskan tidak ada dominasi mutlak, meski tren dua pertemuan terakhir sedikit mengkhawatirkan bagi skuad Garuda.
Memasuki era 2000-an, Indonesia sempat menunjukkan superioritas. Garuda mencatatkan kemenangan penting di semifinal edisi 2000 dengan skor 3-2, kemudian menang telak 3-0 atas Vietnam di fase grup Piala AFF 2004, dan menang 2-1 di leg pertama semifinal 2016. Namun, periode yang sama juga diwarnai lima hasil imbang. Alhasil, dari sembilan laga beruntun sejak 2000 hingga 2023, Indonesia tidak pernah kalah, tetapi sering gagal mengunci kemenangan.
Setahun berselang, di Piala AFF 2024, Vietnam kembali memenangi duel fase grup dengan skor tipis 1-0. Dua kekalahan beruntun ini menjadi catatan tersendiri bagi pelatih dan penggawa timnas jelang laga nanti.
Meski demikian, Indonesia punya modal psikologis dari luar ajang Piala AFF. Dalam dua tahun terakhir, Garuda sukses mengalahkan Vietnam tiga kali di Piala Asia dan Kualifikasi Piala Dunia. Bedanya, saat itu Indonesia diperkuat pemain utama yang merumput di liga Eropa, sementara untuk turnamen kali ini komposisi skuad bisa berbeda.
Pertandingan di Pakansari nanti menjadi momentum bagi Indonesia untuk memutus rekor buruk sekaligus membuktikan diri di hadapan pendukung sendiri. Tekanan jelas ada di pundak Garuda, tetapi sejarah panjang rivalitas ini menjanjikan laga yang sengit dan tidak bisa ditebak.