BANTEN — Kawasan wisata alam milik EIGER di Bogor itu resmi bertransformasi menjadi EIGER Nature, menggantikan nama sebelumnya EIGER Adventure Land. Perubahan ini menandai pergeseran orientasi dari sekadar wahana petualangan menuju kawasan ekowisata terpadu.
Manajemen menegaskan bahwa penggantian identitas ini bukan langkah kosmetik. Seluruh aspek pengelolaan, mulai dari tata ruang, aktivitas pengunjung, hingga alokasi keuangan, diarahkan untuk memenuhi prinsip keberlanjutan.
Direktur Utama EIGER Nature, Imanuel Wirajaya, menyatakan pihaknya memulai transformasi sejak tahap konstruksi. Selain penanaman 120.000 pohon dan 8 juta tanaman penutup tanah, pengembang juga melakukan pemulihan lahan, pendataan keanekaragaman hayati, serta membangun sistem pengelolaan air dan sampah.
"Perubahan ini bukan sekadar tentang nama, tetapi tentang komitmen kami untuk membangun ekowisata yang dapat menjadi berkat bagi pengunjung, alam, budaya, dan masyarakat," ujar Imanuel dalam keterangan resminya belum lama ini.
Dampak ekonominya sudah mulai terasa. Hingga saat ini, kawasan tersebut melibatkan lebih dari 500 tenaga kerja, dengan sekitar 300 orang di antaranya berasal dari warga sekitar. Setelah beroperasional, manajemen memproyeksikan total serapan tenaga kerja bisa menembus angka 1.200 orang.
Konsep pengembangan EIGER Nature bertumpu pada tiga pilar awal: Ekologi, Etnologi, dan Ekonomi. Ketiganya kemudian diperluas menjadi kerangka 7E yang menambahkan aspek Edukasi, Estetika, Etika, dan Entertainment.
Artinya, pengalaman wisata di kawasan ini dirancang tidak hanya untuk mencari kesenangan. Ada unsur pembelajaran ekosistem, pengenalan budaya lokal, serta praktik kepedulian lingkungan yang dikemas dalam satu paket kunjungan.
Menurut Imanuel, ekowisata yang baik harus mampu membangun hubungan timbal balik. "Ekowisata harus mampu membangun hubungan yang lebih baik antara manusia, alam, budaya, dan masyarakat, sekaligus memberikan manfaat yang berkelanjutan," jelasnya.
Sebagai destinasi berbasis alam, EIGER Nature tetap menyediakan wahana petualangan seperti Suspension Bridge, Tree House & Net Adventure, Nature Walk, hingga Forest Adventure. Tersedia pula akomodasi Forest Camp dengan opsi berkemah, glamping, dan kabin.
Manajemen juga mengalokasikan 5 persen dari laba bersih untuk program keberlanjutan. Anggaran tersebut antara lain dipakai untuk pelestarian alam dan budaya, pengelolaan limbah, serta inisiatif penanaman pohon bertajuk 1 Ticket 1 Tree.
Imanuel berharap kunjungan ke kawasan ini meninggalkan kesan yang lebih mendalam daripada sekadar dokumentasi perjalanan. "Pada akhirnya, kami ingin orang tidak hanya datang untuk menikmati alam, tetapi juga pulang membawa pengalaman, pemahaman, dan makna yang baru," tuturnya.