LEBAK — Rencana penghidupan ekonomi baru di tingkat desa tengah disiapkan Pemerintah Kabupaten Lebak. Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang mulai beroperasi pada Agustus 2026 diminta menjadi pemasok utama bahan baku bagi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Imam Suangsa, menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan strategi untuk memastikan hasil bumi warga terserap langsung oleh program pemerintah. "Kita optimistis program pemerintah itu dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi," kata Imam dalam keterangan di Lebak, Jumat.
Perputaran Uang Harus Berhenti di Desa
Imam menjelaskan, selama ini program MBG berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi siswa, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Namun, manfaat ekonomi dari program tersebut dinilai belum maksimal jika bahan bakunya masih didatangkan dari luar daerah.
Dengan adanya KDMP, setiap desa memiliki badan usaha yang bisa menampung komoditas pertanian, perikanan, dan peternakan warga. Hasil panen itu kemudian disalurkan ke dapur SPPG. "Usaha KDMP itu nantinya menampung usaha komoditas lokal dari pertanian, perikanan dan peternakan dan dipasok ke SPPG atau MBG, sehingga menggulirkan perputaran uang di tingkat desa," ujarnya.
340 Desa Siap Menjadi Pemasok Bahan Pangan
KDMP di Kabupaten Lebak ditargetkan berdiri di 340 desa dan kelurahan yang tersebar di 28 kecamatan. Berbeda dengan koperasi konvensional, unit usaha ini memiliki cakupan layanan yang luas, mulai dari gerai sembako, apotek, klinik, pergudangan, hingga simpan pinjam.
Selain itu, koperasi bentukan pemerintah pusat ini juga akan melayani penyediaan pupuk bagi petani. Dengan begitu, siklus ekonomi tidak hanya berhenti pada transaksi jual-beli hasil panen, tetapi juga menyentuh sektor produksi dan distribusi.
Desa Jatimulya Siap Menjadi Mitra Dapur MBG
Respons positif datang dari pengurus koperasi di lapangan. Ketua KDMP Desa Jatimulya, Rangkasbitung, Ajat Sudrajat, menyatakan kesiapannya untuk bersinergi dengan SPPG sebagai mitra usaha. Pihaknya mengaku bisa langsung menampung produk berbasis lokal untuk disalurkan ke dapur MBG.
"Kami bisa menampung produk berbasis lokal dan dipasok ke dapur SPPG atau MBG, sehingga dapat menggulirkan perputaran ekonomi masyarakat," kata Ajat menjelaskan.
Langkah ini dinilai sejalan dengan arahan pemerintah pusat yang ingin memastikan program MBG tidak hanya memperbaiki gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan dari desa.