BANTEN — Perjalanan panjang teknologi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari momen 10 Agustus 1995, saat pesawat N-250 Gatotkaca karya putra-putri bangsa pertama kali mengudara di langit Bandung. Tiga dekade kemudian, semangat yang sama terus dirawat melalui instrumen pendanaan riset yang masif, bukan lagi sekadar proyek mercusuar.
Data terbaru menunjukkan, posisi Indonesia dalam Global Innovation Index (GII) meroket. Jika pada 2020 Indonesia masih tertahan di peringkat 85 dunia, maka pada 2025 berhasil menembus posisi 55. Namun, di kawasan ASEAN, posisi ini masih tertinggal di urutan keenam, di bawah Singapura (peringkat 5), Malaysia (34), Vietnam (44), Thailand (45), dan Filipina (50).
LPDP dan Dana Abadi Penelitian: Bukan Sekadar Angka
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menjadi salah satu motor utama percepatan ini. Sejak 2013, lembaga tersebut telah mendanai 4.830 judul riset dengan total nilai mencapai Rp 4,69 triliun. Dana ini tidak berhenti pada sekadar publikasi ilmiah—sebanyak 2.312 judul riset telah dinyatakan selesai dan menghasilkan 2.201 produk atau teknologi siap pakai.
Dampak nyatanya sudah mulai terasa di kehidupan sehari-hari, mulai dari pengembangan bus listrik hingga prototipe kereta cepat. Ekosistem ini melahirkan 94 entitas usaha baru dan 186 kemitraan strategis dengan industri. Kekayaan intelektual yang tercatat mencapai 4.004 hak cipta dan paten, sebuah modal besar untuk daya saing bangsa.
Mengapa Negara Maju Patok Anggaran Riset Tinggi?
Kunci dari transformasi ini adalah keberanian negara-negara maju seperti Korea Selatan, Jepang, dan Jerman dalam mengalokasikan belanja penelitian dan pengembangan (R&D) secara signifikan terhadap PDB. Mereka memandang riset sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar pos belanja tahunan.
Indonesia mulai meniru langkah tersebut. Dana Abadi Penelitian yang dibentuk pada 2020 kini terus bertumbuh dan mencapai Rp 13,99 triliun pada 2026. Pengelolaan dana ini dilakukan LPDP bersama Kemdiktisaintek, BRIN, dan Kementerian Agama untuk memastikan hasil penelitian tidak berhenti di perpustakaan.
Talenta Muda dan Hilirisasi Jadi Pekerjaan Rumah
Meski capaian ini patut diapresiasi, pekerjaan rumah masih menumpuk. Dari total dana yang digelontorkan, baru tercatat Rp 52 miliar kontribusi mitra industri dan Rp 156 miliar aset yang dimanfaatkan. Angka ini menunjukkan kolaborasi antara akademisi dan dunia usaha masih perlu diperkuat agar inovasi bisa langsung diproduksi massal.
Selain itu, LPDP juga mencatat 9.044 lulusan yang terlibat dalam riset, sebuah sinyal bahwa regenerasi peneliti berjalan baik. Dengan 730 penghargaan dan pengakuan yang diraih, Indonesia kini memiliki peta jalan yang lebih jelas untuk mengejar ketertinggalan teknologi dari negara tetangga.
Semangat N-250 yang pernah membanggakan bangsa kini menjelma dalam bentuk baru: ekosistem riset yang terukur dan berkelanjutan. Jika konsistensi ini dijaga, bukan tidak mungkin peringkat inovasi Indonesia akan terus merangkak naik dalam dekade berikutnya.