BANTEN — Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat kembali menembus level 5%, mencetak rekor tertinggi sejak 2007 di tengah tekanan jual yang meningkat pekan ini. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga energi, belanja AI yang membengkak, dan defisit anggaran AS yang melebar hingga utang pemerintah menembus US$ 40 triliun.
Obligasi pemerintah AS tenor lima tahun melampaui ambang batas 5% untuk pertama kalinya sejak 2007. Hampir seluruh yield obligasi acuan AS kini bergerak di kisaran atau di atas level tersebut, menandai pergeseran yang dinilai bukan sekadar kemerosotan pasar obligasi biasa.
Samuel Martinez, manajer portofolio di Vanguard yang mengelola aset lebih dari US$ 13 triliun secara global, menyebut situasi ini sebagai rezim baru.
"Kita berada dalam rezim baru," ujarnya.
Harga Minyak US$ 100 dan Belanja AI Jadi Pemicu
Beberapa faktor bergabung mendorong kenaikan biaya pinjaman pemerintah AS. Harga minyak yang mencapai US$ 100 per barel menambah tekanan inflasi, sementara lonjakan belanja kecerdasan buatan (AI) turut memperbesar kebutuhan pendanaan pemerintah.
Defisit anggaran AS yang kian melebar melengkapi beban tersebut. Total utang pemerintah AS kini mencapai rekor US$ 40 triliun, level tertinggi dalam sejarah.
Tekanan jual meningkat pekan ini seiring lonjakan kembali harga energi dan data yang menunjukkan aktivitas bisnis AS tetap berjalan kuat. Kondisi ini memberikan alasan tambahan bagi The Federal Reserve untuk mempertahankan sikap hawkish.
The Fed Masih Fokus Redam Inflasi
The Federal Reserve bertekad meredam inflasi yang telah jauh melampaui target selama bertahun-tahun. Data aktivitas bisnis yang tetap solid memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral belum akan melunak dalam waktu dekat.
Pasar obligasi merespons dengan aksi jual agresif. Yield yang terus naik mencerminkan ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Dampak ke Pasar Global dan Indonesia
Obligasi pemerintah AS (Treasuries) menjadi tolok ukur global bagi biaya utang. Ketika yield semakin mahal, tekanan terhadap peminjam di seluruh dunia meningkat, termasuk negara berkembang seperti Indonesia.
Bagi investor Indonesia, kenaikan yield AS berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar obligasi domestik. Selisih imbal hasil antara Surat Berharga Negara (SBN) dan Treasuries menjadi pertimbangan utama investor asing dalam mengalokasikan dana.
- Yield tenor lima tahun melampaui 5% pertama kali sejak 2007
- Harga minyak menyentuh US$ 100 per barel
- Utang pemerintah AS mencapai US$ 40 triliun
- Vanguard mengelola aset lebih dari US$ 13 triliun
Reli panjang saham AS juga berisiko terganggu jika biaya pinjaman terus meningkat. Perusahaan dengan utang besar dan profitabilitas tipis akan menghadapi tekanan paling berat.
Bagi pelaku pasar Indonesia, pergerakan yield Treasuries akan menjadi salah satu indikator utama dalam memantau arah arus modal asing dan stabilitas nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan mendatang.