KOTA TANGERANG — Pemkot Tangerang tidak hanya ingin sekadar mengganti slogan atau logo. Melalui Bappeda, mereka tengah merumuskan identitas yang paling kuat dan relevan dengan potensi daerah, berdasarkan persepsi warganya sendiri.
Yeti Rohaeti menyebut survei awal telah dilakukan untuk menjaring persepsi publik. Hasilnya, tiga citra utama menonjol: kota industri, aerotropolis (kota bandara), dan kota jasa.
“Dari hasil survei, masyarakat mengenal Kota Tangerang sebagai kota industri. Selain itu, ada juga yang mengenalnya sebagai kawasan aerotropolis dan kota jasa,” ujarnya ditemui usai rapat evaluasi kewilayahan di Puspem Kota Tangerang, Senin (15/6/2026).
Yeti menegaskan penyusunan branding tidak berhenti pada penentuan identitas visual. Menurutnya, citra yang dipilih harus didukung kesiapan sektor riil agar bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan calon investor.
“Kalau sudah menentukan branding, tentu ada berbagai hal yang harus disiapkan oleh Pemkot Tangerang agar citra tersebut dapat diwujudkan secara konkret,” katanya.
Artinya, jika nanti branding mengarah ke aerotropolis, maka infrastruktur dan layanan di sekitar bandara harus benar-benar mendukung. Jika industri yang dipilih, iklim usaha dan tenaga kerja harus siap.
Pemkot Tangerang saat ini telah mengantongi hasil survei sebagai pijakan awal. Langkah selanjutnya adalah meramu data tersebut dengan kajian potensi daerah dan visi pembangunan jangka panjang.
Proses kajian hingga penetapan city branding ditargetkan selesai pada tahun 2026. Melalui penguatan ini, Pemkot berharap dapat membangun citra positif, meningkatkan kepercayaan publik, dan membuka peluang investasi yang lebih luas untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.