Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tambak Cimarga 02 di Kabupaten Lebak, Banten, melayani 3.345 penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari pelajar hingga ibu hamil dan balita. Pengelola dapur menegaskan asupan makanan yang disajikan mengutamakan kualitas dan higienitas agar penerima manfaat merasa aman. Program ini dinilai menjadi titik balik bagi warga desa tertinggal yang sebelumnya kesulitan mendapatkan menu bergizi.
LEBAK — Sebanyak 3.345 penerima manfaat di Kabupaten Lebak kini tercakup dalam layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tambak Cimarga 02. Mereka terdiri dari pelajar sekolah, ibu menyusui, ibu hamil, dan balita yang menjadi sasaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) garapan Presiden Prabowo Subianto.
Pemilik SPPG Tambak Cimarga 02 Yayasan Amal Rakyat Banten Bersatu, Eli Suhaeli, menegaskan pihaknya berkomitmen memberikan pelayanan terbaik melalui asupan makanan bergizi yang higienis. "Kita memberikan pelayanan terbaik dengan kualitas dan higienis asupan makanan bergizi untuk pelajar dan ibu hamil, ibu menyusui serta balita yang menjadi penerima manfaat program MBG," kata Eli dalam keterangan di Lebak, Kamis.
Kehadiran program MBG membawa perubahan signifikan bagi masyarakat Desa Tambak Cimarga yang selama ini masuk kategori desa tertinggal. Sebelumnya, warga kesulitan mendapatkan menu makanan bergizi seperti daging, sayuran, hingga buah-buahan segar seperti anggur, pir, dan apel.
Saat ini, kebutuhan tersebut mulai terpenuhi secara rutin melalui dapur SPPG. Dampaknya mulai terlihat pada perkembangan tubuh dan kecerdasan otak anak yang membaik, serta meningkatnya semangat belajar mereka. Kondisi ini dinilai sebagai langkah awal dalam mempersiapkan Generasi Emas 2045.
Untuk menjamin kualitas makanan, seluruh peralatan dapur SPPG Tambak Cimarga 02 dioperasikan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang direkomendasikan Badan Gizi Nasional (BGN). Kelengkapan persyaratan seperti sertifikat laik higiene dan sanitasi (SLHS), sertifikasi halal, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dan sertifikasi HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) juga telah dipenuhi.
Selain berdampak pada gizi masyarakat, keberadaan SPPG ini turut menggerakkan ekonomi lokal. Dapur tersebut merekrut 49 warga setempat sebagai tenaga kerja, dengan prioritas utama bagi keluarga miskin yang terdata dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Lebak, Amir Hamzah, mengapresiasi kualitas makanan yang dihasilkan dapur SPPG di daerahnya. Ia menyebut kualitasnya relatif baik dan sejauh ini tidak ditemukan komplain berarti dari penerima manfaat maupun masyarakat.
"Kami akan menindak tegas pengelola dapur SPPG yang sudah beroperasi sekitar 200 unit jika kualitas rendah dan tidak mengutamakan higienis," tegas Amir. Ia memastikan Satgas akan terus melakukan pengawasan optimal ke dapur-dapur SPPG untuk mencegah kasus keracunan seperti yang terjadi di daerah lain.