KOTA TANGSEL — Harga minyak goreng di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai merangkak naik menyusul ketidakpastian harga minyak mentah di pasar global. Kenaikan ini dipicu tekanan biaya produksi dan distribusi yang membengkak seiring lonjakan harga energi internasional yang terjadi belakangan ini.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tangsel, Mochamad Hardi, menyebut fluktuasi harga minyak dunia berkorelasi langsung terhadap harga bahan pokok domestik. Menurutnya, dampak kenaikan harga energi tidak hanya menyasar sektor bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga merembet ke industri pangan.
“Ketika harga minyak dunia naik, dampaknya bukan hanya pada BBM, tapi juga ke sektor lain, termasuk industri pangan. Ini yang kemudian memicu kenaikan harga di pasar,” ujar Hardi, Selasa (5/5/2026).
Kenaikan harga BBM menjadi variabel utama yang mengerek ongkos logistik di lapangan. Tingginya biaya distribusi ini secara otomatis mendongkrak harga jual minyak goreng di tingkat konsumen karena beban operasional yang lebih besar.
Selain faktor bahan bakar, kenaikan harga bahan baku turunan minyak bumi seperti plastik untuk kemasan turut mempersempit ruang gerak produsen. Kepala Bidang Stabilisasi Harga dan Pengawasan Disperindag Tangsel, Al Gozali, menjelaskan bahwa komponen kemasan memberikan kontribusi signifikan terhadap struktur harga akhir produk.
“Komponen kemasan ikut naik karena berbasis minyak bumi. Jadi ketika harga global naik, biaya produksi otomatis ikut terdorong,” kata Al Gozali menjelaskan kondisi rantai produksi saat ini.
Menyikapi tekanan biaya yang terus meningkat, sejumlah produsen mulai menerapkan strategi penyesuaian volume produk. Langkah ini diambil dengan mengurangi isi kemasan tanpa mengubah harga jual secara ekstrem demi menjaga keberlangsungan usaha di tengah himpitan biaya produksi.
Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh dinamika kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang berdampak pada ketersediaan stok di tingkat lokal. Al Gozali menambahkan, ketergantungan pada ekspor dan fluktuasi produksi membuat stabilitas distribusi dalam negeri belum sepenuhnya konsisten.
“Pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi. Ini yang membuat harga cenderung naik,” tuturnya.
Meski minyak goreng mengalami tren kenaikan, hasil pantauan Disperindag menunjukkan harga komoditas lain seperti beras, cabai, dan bawang masih relatif stabil. Pemerintah Kota Tangsel berkomitmen terus memantau pergerakan harga di pasar-pasar tradisional maupun ritel modern secara berkala.
Hardi memastikan koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat untuk menjamin kelancaran distribusi barang. Langkah ini diharapkan mampu meredam gejolak harga agar tidak meluas ke komoditas pangan lainnya di wilayah Tangsel.