TANGERANG — Lingkungan hunian yang dikelilingi pepohonan, taman terbuka, dan udara lebih bersih tak lagi sekadar soal kenyamanan. Di tengah dinamika kehidupan perkotaan yang makin padat, kawasan residensial berbasis alam mulai dilirik sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental penghuninya.
Psikolog klinis Ratih Ibrahim menilai manusia secara alami memiliki keterikatan emosional dengan alam. Menurutnya, lingkungan asri dapat membantu menurunkan tingkat stres, kecemasan, hingga kelelahan mental akibat rutinitas harian yang padat. Ia menyebut keberadaan ruang terbuka hijau juga membantu menciptakan rasa tenang dan nyaman bagi seseorang.
Psikolog Nirmala Ika menjelaskan, aktivitas sederhana seperti berjalan kaki di area hijau atau menikmati udara pagi di lingkungan alami dapat membantu tubuh memproduksi hormon serotonin. Hormon ini berpengaruh langsung terhadap suasana hati dan keseimbangan emosional seseorang.
“Paparan alam secara rutin dapat membantu menjaga keseimbangan emosional dan meningkatkan kualitas tidur masyarakat,” ujar Nirmala. Ia menambahkan, interaksi dengan alam secara konsisten juga mampu mengurangi risiko depresi dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.
Kawasan residensial yang dekat dengan alam dinilai baik untuk tumbuh kembang anak. Lingkungan yang lebih tenang dan minim polusi membantu anak lebih rileks, aktif bermain, serta mengurangi ketergantungan terhadap gawai. Bagi lansia, suasana hijau dipercaya membantu menjaga kondisi psikologis agar tetap stabil dan tidak mudah mengalami stres.
“Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa interaksi dengan alam mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis dan mengurangi risiko depresi,” kata Nirmala. Karena itu, keberadaan kawasan residensial berbasis lingkungan hijau kini tidak hanya dipandang sebagai gaya hidup modern, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental masyarakat di tengah dinamika kehidupan perkotaan yang semakin kompleks.
Ratih Ibrahim menyebut, konsep hunian berbasis alam kini banyak diterapkan pengembang melalui kawasan residensial yang menghadirkan taman terbuka, area pedestrian hijau, danau buatan, hingga fasilitas olahraga outdoor. “Selain menciptakan suasana lebih segar, lingkungan seperti ini juga mendorong masyarakat lebih aktif bergerak dan memiliki interaksi sosial yang lebih baik dengan lingkungan sekitar,” katanya.
Salah satu contohnya adalah Matera Lakeside, proyek residensial terbaru di kawasan Danau Cihuni, Gading Serpong. Kawasan ini mengusung konsep luxury resort living yang memadukan kemewahan, privasi, dan kedekatan dengan alam. Tata kawasannya mengutamakan ruang hijau, panorama danau, serta suasana alami yang jarang ditemukan di tengah perkembangan kawasan urban modern.
Keunggulan utama Matera Lakeside terletak pada lokasinya yang berada di sisi Danau Cihuni seluas kurang lebih 32 hektare. Danau alami tersebut telah direvitalisasi pemerintah menjadi kawasan konservasi air yang berfungsi sebagai area resapan, pengendali banjir, sekaligus destinasi ekowisata. Keberadaan danau memberikan nilai tambah tersendiri karena menawarkan udara lebih segar dan lingkungan yang lebih asri.
Matera Lakeside juga mengedepankan aspek privasi dan eksklusivitas melalui jumlah unit yang terbatas. Setiap hunian dirancang dengan akses visual optimal menghadap danau, pepohonan pinus, serta ruang terbuka hijau. Perencanaan kawasan yang matang membuat lingkungan hunian terasa lebih tenang dan mendukung kualitas hidup penghuninya.
Meski berada di area yang lebih privat dan jauh dari keramaian sisi selatan Gading Serpong, kawasan ini tetap memiliki konektivitas yang baik menuju berbagai pusat aktivitas masyarakat. Penghuni dapat dengan mudah mengakses kawasan Gading Serpong dan BSD, pusat bisnis, restoran, lifestyle hub, hingga berbagai destinasi hiburan modern yang terus berkembang di wilayah Tangerang Raya.