BANTEN — Industri kelapa sawit selama ini identik dengan perkebunan dan pabrik besar. BPDP ingin mengubah persepsi itu dengan membuka mata generasi muda bahwa di hilir, ada segudang peluang bisnis yang menjanjikan, mulai dari produk olahan makanan hingga kerajinan berbasis sawit.
Kepala Divisi Program Kemitraan dan Pengembangan Usaha BPDP, Fathul Hadi, menekankan pentingnya regenerasi di sektor ini. "Kami ingin Gen Z tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktor utama dalam mengolah sawit menjadi produk bernilai tambah," ujarnya dalam workshop yang digelar pekan lalu.
Menurut BPDP, selama ini fokus pengembangan lebih banyak di hulu, seperti perkebunan dan pabrik kelapa sawit (PKS). Padahal, potensi hilir sangat besar, terutama untuk produk turunan seperti oleokimia, biodiesel, dan barang konsumen.
Workshop di Karawang itu diikuti puluhan peserta muda. Mereka mendapat materi tentang model bisnis hilir sawit, strategi pemasaran digital, hingga akses permodalan. Tidak hanya teori, peserta juga diajak praktik membuat produk sederhana berbasis minyak sawit.
BPDP menggandeng pelaku UMKM binaan sebagai mentor. Salah satunya adalah pengusaha lokal yang sukses memproduksi sabun dan lilin dari minyak sawit mentah (CPO). Kisah sukses ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi peserta untuk memulai usaha serupa.
"Target kami bukan sekadar memberi pengetahuan, tapi mendorong lahirnya wirausaha baru di bidang hilir sawit," tambah Fathul Hadi.
Dengan mendorong Gen Z masuk ke hilir sawit, BPDP optimistis bisa menciptakan ekosistem bisnis yang lebih inklusif. Selama ini, produk hilir sawit Indonesia sebagian besar masih diekspor dalam bentuk mentah atau setengah jadi. Jika anak muda bisa mengolahnya menjadi produk jadi, nilai tambahnya akan dinikmati di dalam negeri.
Selain itu, langkah ini juga sejalan dengan program pemerintah untuk mengurangi pengangguran di kalangan usia produktif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk usia 15-24 tahun masih cukup tinggi.
Ke depan, BPDP berencana memperluas workshop serupa ke daerah-daerah sentra sawit lainnya. Program ini juga akan dikaitkan dengan skema pembiayaan kemitraan yang sudah berjalan, sehingga peserta yang serius bisa langsung mengakses modal usaha.