BANTEN — Mobil balap CRT-02 diperkenalkan di Aula Barat ITB pada Senin (23/6/2026). Peluncuran ini sekaligus menjadi sinyal kesiapan tim untuk kembali bertarung di ajang Formula Student Jepang. Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., dalam sambutannya menekankan pentingnya proses dan konsistensi dalam berinovasi, serta mendorong tim untuk tidak berhenti mengembangkan diri.
Salah satu gebrakan teknis paling menonjol adalah sistem kontrol mesin berbasis Electronic Control Unit (ECU) yang dirancang dan dibangun sendiri oleh mahasiswa. Ketua CRT, Muzhaffar Omar Priambodo, menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk menekan biaya produksi yang biasanya sangat mahal jika menggunakan ECU komersial.
“Kami menggunakan ECU buatan sendiri karena ECU pada umumnya itu harganya cukup mahal dan kami ingin menekan biaya,” ujar Omar. Keterbatasan anggaran justru menjadi pemicu lahirnya inovasi teknis yang lebih mandiri dan aplikatif.
Perubahan regulasi kompetisi internasional memaksa tim untuk melakukan penyesuaian besar pada CRT-02. Sasis dan sistem kendaraan didesain ulang secara fundamental, menghasilkan karakter struktural yang berbeda dari generasi sebelumnya. Dimensi kendaraan, ergonomi pengemudi, dan tata letak komponen pun ikut disesuaikan.
Pendekatan aerodinamika juga mengalami perubahan signifikan. Tim memutuskan untuk menghilangkan front wing dan rear wing konvensional. Sebagai gantinya, mereka mengadopsi desain alternatif berupa sirip belakang (sharp fin) yang lebih sederhana namun tetap fungsional.
Untuk menyeimbangkan kekuatan struktur dan efisiensi bobot, tim memanfaatkan material komposit karbon yang lebih variatif. Inovasi lainnya mencakup pendekatan personalisasi pada sistem kemudi, yang dirancang agar lebih adaptif terhadap postur dan preferensi pengemudi.
Seluruh proses pengembangan CRT-02—mulai dari desain digital, fabrikasi, hingga integrasi sistem—dikerjakan secara bertahap oleh berbagai divisi teknis. Ilmu dari lintas program studi seperti teknik mesin, elektro, industri, hingga desain produk dikolaborasikan dalam proyek ini.
“Ini merupakan evaluasi mobil kedua kami yaitu CRT-02 hasil dari evaluasi mobil CRT-01 yang telah kami lombakan di Jepang tahun lalu,” ungkap Omar. Pengalaman tahun sebelumnya menjadi fondasi utama dalam menyusun strategi teknis dan non-teknis yang lebih matang untuk kompetisi mendatang.
Dengan pendekatan rekayasa berbasis iterasi dan kolaborasi multidisiplin, CRT-02 diharapkan mampu bersaing lebih kompetitif di kancah Formula Student Jepang. Tim menargetkan performa yang lebih konsisten dan keandalan kendaraan yang lebih baik dibanding edisi sebelumnya.