TANGERANG — Gelar juara pertama Lomba Desa yang diraih Desa Ciakar, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, membawa konsekuensi baru. Bukan sekadar piala dan piagam, desa ini kini dihadapkan pada tantangan menjaga kualitas pelayanan publik dan mempertahankan identitas lokal di tengah derasnya pembangunan properti skala besar.
Desa yang akan mewakili Provinsi Banten di ajang regional itu belakangan mulai menjadi perhatian publik. Bukan hanya karena prestasinya, melainkan karena tumbuhnya pasar-pasar rakyat tradisional di beberapa titik, seperti Pasar Tradisional Alam Bambu Ciakar (ABC), Pasar Tradisional Sumur Gede, dan Pasar Tradisional Lebak Cadas Cukanggalih Sabrang.
Kehadiran pasar-pasar tersebut menjadi kabar baik di tengah menjamurnya perumahan Kota Mandiri di wilayah ini. Pasar rakyat tradisional tidak hanya menjadi tempat jual beli, tetapi juga ruang silaturahmi, ruang budaya, dan ruang pendidikan ekonomi bagi masyarakat. Di sana, warga menggerakkan ekonomi tanpa harus bergantung pada jaringan ritel besar.
Namun, pengamat sosial dan jurnalis senior Widi Hatmoko mengingatkan bahwa pembangunan fisik jangan sampai menghilangkan wajah asli desa. "Pemerintah daerah, jangan membiarkan kepala desa bekerja sendiri. Butuh dukungan kuat untuk tetap melestarikan wajah sebuah desa di tengah gerusan alam modern yang dikepung oleh kawasan Kota Mandiri," tulisnya dalam analisis yang diterima redaksi.
Satu hal yang juga perlu dijaga, menurut Widi, adalah keberlanjutan semangat pasca-lomba. Prestasi lomba desa sering kali berakhir sebagai etalase sesaat. "Setelah tim penilai pulang, semangat ikut pulang. Yang tersisa hanya baliho bertuliskan 'Selamat atas Prestasi'," katanya.
Padahal, masyarakat lebih membutuhkan pelayanan yang terus meningkat daripada spanduk yang semakin banyak. Menjadi juara regional memang target berikutnya, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat tetap menjadi juara dalam mendapatkan pelayanan publik, kesempatan ekonomi, dan lingkungan yang sehat.
Ciakar dinilai memiliki peluang besar menjadi contoh bagaimana desa berkembang tanpa kehilangan identitasnya. Konsep gotong royong yang dibangun oleh para pemangku kebijakan dan perangkat desa di tengah masyarakat multi etnis harus dijaga agar tidak tergerus modernisasi.
Widi mengingatkan jangan sampai yang berkembang hanya bangunan, sementara sawah hilang, ruang hijau menyusut, dan pasar rakyat berubah menjadi bangunan beton yang kehilangan ruh kerakyatannya. "Desa yang hebat bukan desa yang paling sering memenangkan lomba, melainkan desa yang mampu membuat warganya betah tinggal, nyaman berusaha, dan bangga menyebut, 'Saya orang Ciakar'," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Tangerang disebut memiliki tanggung jawab moral untuk tetap menjadikan Ciakar sebagai desa yang tidak kehilangan identitasnya. Dukungan dari tingkat kabupaten dinilai krusial agar prestasi ini tidak berhenti pada piala, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga setiap hari.