BANTEN — Pengguna motor listrik di Indonesia kerap mengeluhkan jarak tempuh yang menyusut drastis padahal usia kendaraan belum genap tiga tahun. Ironisnya, sumber masalahnya bukan terletak pada teknologi baterai yang digunakan pabrikan, melainkan pada pola perawatan harian yang luput dari perhatian.
Produsen kendaraan listrik menegaskan bahwa baterai lithium-ion bekerja paling optimal saat kapasitasnya tidak dikuras hingga titik nol. Kebiasaan menunggu indikator baterai benar-benar kosong sebelum mencolokkan charger justru mempercepat penurunan kesehatan sel secara permanen.
Kesalahan umum berikutnya adalah mengisi daya hingga penuh seratus persen setiap kali motor selesai dipakai. Dalam pemakaian harian dengan jarak tempuh pendek—misalnya dari rumah ke pasar atau kantor yang hanya beberapa kilometer—pengisian penuh tidak diperlukan.
Beberapa pabrikan menyarankan pengisian daya dilakukan sesuai kebutuhan perjalanan. Kapasitas penuh memang penting untuk perjalanan jauh, tetapi jika hanya untuk mobilitas rutin, mengisi hingga 80-90 persen justru lebih ramah bagi umur panjang baterai.
Kebiasaan lain yang mempercepat degradasi adalah meninggalkan motor listrik dalam kondisi baterai kosong saat parkir dalam waktu lama. Ketika kendaraan tidak digunakan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, kapasitas baterai terus berkurang secara alami melalui proses self-discharge.
Jika level tegangan turun terlalu rendah dan dibiarkan dalam waktu panjang, potensi kerusakan sel baterai meningkat signifikan. Pengguna yang akan meninggalkan motor dalam waktu lama disarankan mengisi baterai di kisaran 40-60 persen sebelum menyimpannya.
Seiring meningkatnya adopsi motor listrik di Indonesia—didorong program elektrifikasi dan dukungan pemerintah terhadap transportasi ramah lingkungan—produsen terus menghadirkan teknologi baterai dengan umur pakai yang lebih panjang. Namun, tanpa perubahan kebiasaan pengisian dan penyimpanan, teknologi secanggih apa pun tetap akan mengalami penurunan performa lebih cepat dari seharusnya.