JAKARTA — Album deluxe tersebut merupakan ruang bagi Natasha Udu, Rayhan Noor, Enrico Octaviano, Tristan Juliano, dan Baskara Putra alias Hindia untuk membicarakan persoalan personal yang belum selesai. Sebelumnya, Lomba Sihir telah merampungkan 16 lagu dalam album “Obrolan Jam 3 Pagi”.
Ide menghadirkan edisi deluxe muncul setelah para personel banyak mendengarkan musik lain seusai album pertama dirilis. Berbagai referensi baru kemudian memunculkan keinginan untuk kembali mengeksplorasi materi yang sudah mereka bangun.
Salah satu lagu baru, “Di Seberang”, telah diperkenalkan kepada pendengar pada 15 Juli 2026. Namun, kelima personel menegaskan bahwa materi tambahan tersebut bukan sekadar pelengkap album.
“Kami sepakat bahwa ada yang lebih dalam yang bisa digali lagi dari Obrolan Jam 3 Pagi. Ada yang lebih personal yang kami ingin utarakan,” kata Udu.
Dalam menggarap materi baru, Lomba Sihir tetap mempertahankan kebiasaan berdiskusi bersama. Percakapan antarpersonel menjadi bagian penting dalam pembentukan musik maupun lirik.
“Banyak band yang enggak mengobrol bareng di luar main musik, jadi bersyukur kami masih bisa. Untungnya bisa mengobrol juga dengan alat musik kami dan suara-suara Udu, Baskara dan Rayhan. Kami membayangkan Obrolan Jam 3 Pagi sebagai pembuka ke obrolan yang lebih absurd, serius dan aneh lagi,” kata Enrico.
Konsep percakapan tersebut kemudian diterapkan saat mengerjakan lirik. Masing-masing personel diberi kesempatan menyampaikan cerita tanpa terlalu banyak intervensi dari personel lainnya.
“Benar-benar duduk bareng mengerjakan semua musiknya, lalu untuk liriknya secara spesifik ada kesepakatan: Terserah mau tulis apa, gue enggak intervensi. Kosongkan bagian buat gue dan gue akan merespons omongannya di situ. Jadi kayak judulnya, memang obrolan,” tutur Hindia.
Udu menggambarkan proses tersebut seperti sekelompok teman yang saling mencurahkan isi hati. Dalam percakapan itu, setiap orang bisa memberikan dukungan, membagikan pengalaman, bahkan memberikan teguran.
“Karena ini percakapannya di antara kami berlima, jadi kami membuat lagunya seakan-akan sedang benar-benar curhat. Misalnya ada lagu yang gue curhat, terus ditimpali masukan dari teman-teman yang lain. Jadi ada yang mendukung, ada yang menceritakan versi dia, ada yang malah memarahi dan sebagainya,” ujar Udu.
Rayhan menambahkan, grupnya memang tidak ingin membatasi eksplorasi musik. “Kami selalu membayangkan Lomba Sihir punya spektrum yang luas banget. Kami bisa main ke mana saja, kapan pun kami suka,” ujar Rayhan.
Hindia menilai materi terbaru tersebut memperlihatkan kedalaman baru dari Lomba Sihir. “Kali ini gue merasa pendengar bisa melihat kedalaman-kedalaman yang baru dari Lomba Sihir, karena menurut gue penulisan di lima lagu ini lumayan lebih detail dibanding versi Obrolan Jam 3 Pagi yang biasa,” kata Hindia.
Setelah perilisan album deluxe, Lomba Sihir dijadwalkan membawa materi tersebut ke atas panggung melalui Konser Ujung Dunia di GBK Basketball Hall, Jakarta, pada 21 November 2026.
Udu berharap karya terbaru mereka dapat menemani pendengar menghadapi persoalan sehari-hari. “Kami enggak pernah berharap lagu kami harus disukai orang-orang, tapi semoga bisa bermanfaat bagi orang-orang yang mendengarkannya. Bisa menemani di keseharian mereka atau bisa merasa terbantu lagu-lagu ini,” kata Udu.