TANGSEL — Kepala Perwakilan BI Banten Sofwan Kurnia menyatakan KKB x BIF 2026 dirancang untuk memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah, memperluas akses pasar, serta mendorong investasi yang memberi nilai tambah bagi perekonomian daerah. Forum mengusung tema "Mengoptimalkan Potensi Penyangga Megapolitan melalui Investasi Berkualitas dan Penguatan Ekosistem UMKM untuk Mendorong Daya Saing Banten".
Agenda utama kegiatan ini menghubungkan pelaku UMKM dengan pasar, industri, dan calon investor. Sofwan menilai penguatan tersebut penting karena UMKM menopang sebagian besar perekonomian nasional.
Peran UMKM terhadap Perekonomian Nasional
Jumlah UMKM di Indonesia mencapai lebih dari 64 juta unit usaha, atau sekitar 99 persen dari total unit usaha. Sektor ini berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.
Kendati begitu, sejumlah tantangan masih membayangi: peningkatan produktivitas, inovasi, digitalisasi, akses pembiayaan, dan perluasan pasar. "Penguatan tersebut dinilai penting mengingat UMKM memiliki peran besar dalam perekonomian nasional," kata Sofwan.
Posisi Banten sebagai Penyangga Megapolitan
Potensi pengembangan UMKM dan investasi di Banten ditopang posisi strategis sebagai wilayah penyangga megapolitan Jakarta. Kawasan industri di wilayah utara serta potensi alam dan budaya di wilayah selatan melengkapi modal daerah ini.
Pemerintah Provinsi Banten menilai potensi tersebut perlu dioptimalkan lewat kemitraan yang menghubungkan UMKM dengan kebutuhan pasar dan rantai pasok industri. Harapannya, pertumbuhan investasi ikut dirasakan pelaku usaha lokal dan masyarakat.
Realisasi Investasi Rp 130,2 Triliun Sepanjang 2025
Provinsi Banten mencatat realisasi investasi Rp 130,2 triliun sepanjang 2025, atau 108,95 persen dari target. Capaian itu menyerap 214.216 tenaga kerja.
Pada semester I 2026, realisasi investasi mencapai Rp 66,3 triliun atau 46,63 persen dari target tahunan Rp 142,19 triliun. Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi, meski diperlukan tindak lanjut agar proyek berlanjut hingga tahap realisasi.
Gubernur Banten Andra Soni menekankan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem UMKM terintegrasi dari hulu ke hilir sekaligus menciptakan iklim investasi kondusif.
"Pengembangan UMKM perlu diarahkan pada peningkatan kapasitas usaha, kualitas produk, digitalisasi, perluasan akses pembiayaan dan pasar, serta penguatan kemitraan," jelas Andra.
Enam Perusahaan Teken Letter of Intent
Pada rangkaian pembukaan, enam perusahaan menandatangani Investment Letter of Intent: Raybo Co. Limited, PT Winda Industrial Indonesia, PT Tukaka Craftwork Indonesia, PT Mingcheng Knitting Indonesia, PT Dragon Soar Industrial, dan PT Yuchuang Biotechnology Indonesia.
Penandatanganan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat penjajakan dan komitmen investasi di Banten. Tindak lanjut diperlukan agar komitmen tersebut berlanjut ke tahap realisasi.
Agenda lain mencakup penguatan SDM vokasi melalui nota kesepahaman antara Modern Cikande dan Yayasan APINDO untuk APINDO Daya.
Rangkaian Acara dan Pertumbuhan Ekonomi Banten
KKB x BIF 2026 menghadirkan pameran produk UMKM, business matching dengan pembeli domestik dan internasional, The Brewtiful Banten Experience, hingga Banten Creative Runway. Diskusi, edukasi, dan kompetisi kreatif melengkapi rangkaian untuk memperluas eksposur produk sekaligus meningkatkan kapasitas pelaku UMKM.
Penguatan UMKM dan investasi ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Banten yang mencapai 5,49 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional 5,29 persen. Pembentukan modal tetap bruto berkontribusi 30,97 persen terhadap PDRB Banten pada 2025.
Forum tahun ini juga mendorong penguatan daftar proyek investasi potensial atau investment pipeline, serta mengidentifikasi hambatan investasi, termasuk persoalan lahan dan tata ruang.