Produksi Padi Banten Tembus 8 Besar Nasional, Biaya Tanam Dipangkas Drastis

Penulis: Zainul Arifin  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 11:26:57 WIB
Produksi padi Banten mencapai 1,8 juta ton dengan luas panen 345.421 hektare pada 2025.

SERANG — Sektor pertanian di Tanah Jawara mencatatkan lompatan besar dengan menembus jajaran delapan besar lumbung pangan nasional. Berdasarkan data terbaru, luas panen padi di Provinsi Banten telah menyentuh 345.421 hektare dengan total produksi mencapai 1,8 juta ton.

Gubernur Banten, Andra Soni, mengungkapkan bahwa prestasi ini menempatkan Banten dalam kategori daerah dengan ketahanan pangan sangat tangguh. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri Tanam Perdana Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kelurahan Margaluyu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (5/5/2026).

“Alhamdulillah, pada tahun 2025, produksi kita mencapai 1,8 juta ton. Prestasi ini juga sejalan dengan pencapaian Indeks Ketahanan Pangan Banten yang terus kita pertahankan selama enam tahun berturut-turut,” ujar Andra.

Efisiensi Biaya: Dari Rp2 Juta Jadi Rp200 Ribu

Salah satu poin krusial dalam transformasi pertanian di Banten adalah mekanisasi yang mampu menekan biaya produksi secara ekstrem. Ketua Kelompok Tani (Poktan) Masyarakat Guyub 1, Andi Kamal, membeberkan perbedaan mencolok antara metode konvensional dan sistem modern.

Menurut Kamal, selama ini petani kerap terkendala minimnya minat generasi muda dan tingginya upah buruh tani manual. Penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) menjadi solusi konkret bagi keberlangsungan sawah di Kasemen.

“Kalau tanam manual oleh ibu-ibu, biayanya bisa mencapai Rp2 juta per hektare untuk 25 pekerja. Namun, dengan alat mesin, biayanya hanya sekitar Rp200.000 per hektare,” kata Kamal.

Target Produktivitas 10 Ton Per Hektare

Sistem PM-AAS yang diinisiasi Kementerian Pertanian (Kementan) ini mengadopsi teknologi berbasis presisi. Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementan, Husnain, menjelaskan bahwa metode ini terinspirasi dari sentra padi di Arkansas, Amerika Serikat, yang menerapkan pola tanam rapat untuk meningkatkan populasi tanaman.

Kepala Wilayah Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Banten, Andry Polos, menargetkan produktivitas lahan di Banten bisa menembus angka dua digit.

“Sistem pertanian modern ini diharapkan meningkatkan produktivitas secara signifikan. Dari yang awalnya 3,25 hingga 4,5 ton, bisa meningkat ke 7,5 ton. Bahkan pada kondisi optimal, target kami adalah 10 ton per hektare,” jelas Andry.

Saat ini, program percontohan tersebut dilaksanakan di atas lahan seluas 100 hektare di Kecamatan Kasemen. Lokasi ini menjadi tahap ketiga dari 15 lokasi percontohan nasional yang tersebar di 14 provinsi.

Sokong Program Makan Bergizi Gratis

Peningkatan produksi padi ini diproyeksikan tidak hanya untuk surplus pasar, tetapi juga untuk mengamankan pasokan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di Banten sendiri, terdapat sekitar 3,5 juta penerima manfaat program tersebut.

Andra Soni menilai, sekitar 85 persen kebutuhan program MBG bersumber dari sektor pertanian dan peternakan. Dengan pertumbuhan sektor pertanian Banten yang mencapai 9,60 persen—tertinggi menurut data BPS—daerah optimistis mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara mandiri.

“Mudah-mudahan potensi ini bisa kita manfaatkan. Apalagi saat ini perekonomian Banten tumbuh 5,37 persen dan Nilai Tukar Petani (NTP) juga mengalami kenaikan,” pungkasnya.

Reporter: Zainul Arifin
Back to top