LEBAK — Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, tengah mendorong pengembangan tambak udang vaname sebagai motor penggerak ekonomi baru masyarakat pesisir. Program ini tidak hanya mengejar peningkatan pendapatan, tetapi juga menjadi salah satu strategi untuk mempercepat penghapusan kemiskinan ekstrem di wilayah selatan Banten tersebut.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak, Winda Triana, mengungkapkan bahwa minat warga pesisir untuk mengembangkan budi daya udang vaname kini cukup besar. “Kami optimistis pengembangan tambak udang vaname meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” kata Winda di Lebak, Sabtu.
Harga udang vaname saat ini berkisar antara Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram, tergantung ukuran. Dengan produksi mencapai 25 ton per 2.000 meter persegi, nilai rupiah yang bergulir dari satu area tambak bisa menyentuh angka miliaran rupiah.
Pemerintah daerah mencatat bahwa hasil panen udang vaname dari pesisir Lebak sebagian besar dipasok ke Jakarta dan Tangerang. Siklus panen yang hanya memakan waktu tiga bulan membuat komoditas ini cukup menarik bagi pembudidaya.
“Pengembangan tambak udang milik rakyat itu, karena permintaan cukup tinggi,” tambah Winda. Ia menekankan bahwa keberadaan klaster budi daya ini memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi pendapatan ekonomi warga pesisir, termasuk mendorong sektor wisata perikanan.
Tidak sekadar produksi, Pemkab Lebak melihat tambak udang vaname bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru. Warga yang sebelumnya hanya mengandalkan ikan tangkapan kini memiliki alternatif usaha yang lebih terencana dan bernilai ekonomi tinggi.
Winda berharap pengembangan tambak ini ke depan menjadi andalan ekonomi masyarakat pesisir. “Kami minta warga pesisir dapat mengembangkan klaster tambak budi daya udang vaname, selain ikan tangkapan guna meningkatkan pendapatan ekonomi mereka,” ujarnya.
Dengan potensi yang ada, Pemkab Lebak terus mendorong pembentukan klaster-klaster tambak rakyat yang terkelola dengan baik. Langkah ini dinilai strategis untuk menggerakkan ekonomi desa di pesisir selatan Banten yang selama ini masih tertinggal dibandingkan wilayah utara.