CILEGON — Suara dentuman keras mengagetkan warga Grogol, Cilegon, sekitar pukul 14.30 WIB. Belasan menit kemudian, bau menyengat mulai merambat ke pemukiman. Ketua RT setempat, Mursalin, mengonfirmasi kejadian itu kepada awak media.
“Ada ledakan ini, baunya nyebar ke mana-mana, sampai Kagungan kecium parah,” ujarnya.
Menurut Mursalin, arah angin dari barat membuat aroma kimia cepat menyebar ke lingkungan padat penduduk. Bau tersebut tercium sekitar sepuluh menit setelah ledakan dan bertahan hingga pukul 15.00 WIB. Sejumlah warga dilaporkan keluar rumah dengan maskur seadanya.
Video yang beredar di kalangan warga menunjukkan puluhan pekerja MCCI berhamburan keluar area pabrik. Mereka terlihat mengenakan masker yang disiapkan perusahaan sambil berjalan cepat menjauhi sumber asap. Belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa atau luka-luka hingga berita ini diturunkan.
Pihak Humas PT MCCI belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp. Tidak ada pernyataan resmi dari manajemen perusahaan mengenai penyebab ledakan atau jenis bahan kimia yang terbawa angin ke pemukiman.
Mursalin mengatakan kekhawatiran terbesar warga kini adalah dampak kesehatan dari paparan gas atau partikel kimia tersebut. “Karena anginnya parah, pas angin barat. Ada suara ledakan di MCCI, 10 menit kemudian tercium bau,” katanya menggambarkan cepatnya penyebaran aroma.
Lingkungan Kagungan berada di radius kurang dari satu kilometer dari pabrik kimia tersebut. Beberapa warga memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat di kelurahan lain hingga situasi dinyatakan aman.
Hingga Senin malam, tidak ada siaran pers atau konferensi pers dari PT MCCI. Tidak diketahui apakah perusahaan telah melaporkan insiden ini ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Cilegon atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.
Ledakan di kawasan industri kimia Cilegon bukan pertama kali terjadi. Pada 2021, kebocoran gas amonia di pabrik PT Indo Acidatama sempat membuat puluhan warga dirawat karena sesak napas. Kejadian serupa pada 2023 di pabrik PT Krakatau Steel juga memicu evakuasi massal.
Warga berharap pemerintah kota segera melakukan investigasi dan mengukur kualitas udara di permukiman sekitar pabrik. “Kami cuma ingin tahu apakah udara ini aman atau tidak. Anak-anak batuk-batuk sejak tadi,” ujar Mursalin.