BANTEN — PT Pertamina (Persero) merealisasikan pengurangan emisi karbon 118 persen dari target tahunan sepanjang Januari-Juni 2026. Capaian program dekarbonisasi itu melampaui sasaran sekaligus mengukuhkan posisi perseroan sebagai perusahaan peringkat ESG nomor satu dunia pada sub-industri integrated oil and gas.
Kinerja hijau Pertamina tidak berhenti di dekarbonisasi. Bisnis rendah karbon perseroan mencatat realisasi 101 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 pada periode yang sama, sementara program tata kelola secara keseluruhan mencapai 102 persen.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyebut capaian ini sebagai hasil pelaksanaan program yang efektif di aspek tata kelola, sosial, dan sistem pendukung keberlanjutan.
"Keberhasilan ini mencerminkan pelaksanaan program yang efektif terutama pada aspek tata kelola, sosial, dan sistem pendukung keberlanjutan," ujar Baron.
Bioetanol dan Biofuel Jadi Penopang Utama
Baron merinci sejumlah program yang mendorong kinerja bisnis rendah karbon, mulai dari bioetanol, biofuel, hingga efisiensi energi. Seluruhnya disebut mampu melampaui target yang ditetapkan pada awal tahun.
Salah satu yang paling menonjol adalah penjualan biogasoline. Sepanjang Januari-Juni 2026, realisasi penjualannya mencapai 23.280 kiloliter (KL) melalui pencampuran bioetanol lima persen pada bensin RON 95.
Pertamina juga menargetkan volume pengangkatan Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebesar 27.000 KL dan penjualan 6.000 KL sepanjang 2026. Selain SAF, perseroan mendorong pemanfaatan biogasoline, biodiesel, dan pembangkit energi rendah karbon sebagai bagian dari transformasi portofolio menuju energi hijau.
Skor CDP dan GCG Jadi Bukti Eksternal
Pengakuan atas kinerja keberlanjutan Pertamina datang dari sejumlah lembaga penilai independen. Pada penilaian Carbon Disclosure Project (CDP), perseroan memperoleh skor B untuk kategori perubahan iklim dan A- untuk keamanan air.
Dari sisi tata kelola, Pertamina mencatat skor Good Corporate Governance (GCG) tahun 2025 sebesar 97,14 persen dengan kategori "Sangat Baik". Angka itu menjadi salah satu indikator yang mengantar perseroan mempertahankan posisi puncak peringkat ESG global pada sub-industri integrated oil and gas.
Baron menegaskan seluruh capaian tersebut menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola perusahaan.
"Berbagai capaian tersebut menjadi dorongan bagi Pertamina untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola perusahaan. Bagi Pertamina, keberlanjutan dan prinsip ESG menghasilkan dampak nyata bagi lingkungan, masyarakat, dan keberlanjutan bisnis," katanya.
Empat Penghargaan di KESGI Award 2026
Rangkaian capaian itu berbuah pengakuan di ajang KESGI Award 2026 yang digelar Katadata ESG Sustainability Insight (KESGI) di Sudirman Hall, Jakarta, Kamis (17/9). Pertamina memborong empat penghargaan utama di sektor minyak dan gas.
Keempat apresiasi tersebut masing-masing untuk kategori pilar ESG, lingkungan, sosial, dan tata kelola. Penilai menempatkan Pertamina sebagai perusahaan yang menjalankan bisnis energi secara seimbang antara profitabilitas, kelestarian lingkungan, dan tata kelola yang akuntabel.
Bagi investor, capaian ini memperkuat narasi transisi energi Pertamina di tengah tekanan global untuk menurunkan emisi. Program dekarbonisasi juga disebut selaras dengan target pemerintah mencapai net zero emission (NZE) pada 2060, sekaligus menjadi fondasi bagi aksi korporasi perseroan ke depan.