Penggunaan kartu berbasis stablecoin mencatat pertumbuhan transaksi ritel hingga 105 persen dalam setahun terakhir berkat integrasi jaringan pembayaran global. Efisiensi likuiditas menjadi pendorong utama karena teknologi ini mampu memangkas modal mengendap hingga 40 persen melalui penyelesaian transaksi 24 jam. Tren ini menandai pergeseran aset kripto menjadi alat pembayaran harian yang semakin sulit dibedakan dengan kartu konvensional.
Lanskap pembayaran digital global sedang mengalami pergeseran struktural yang signifikan. Berdasarkan data terbaru yang diungkap dalam panel Consensus Miami 2026, volume belanja ritel menggunakan kartu stablecoin tumbuh di kisaran 105 hingga 106 persen secara tahunan (YoY). John Timoney, Head of Strategic Partnerships di platform infrastruktur Rain, menyebut bahwa kartu berbasis stablecoin berpotensi menguasai pangsa pasar dua digit di beberapa wilayah, terutama Amerika Latin.
Rain, yang baru saja resmi menjadi Mastercard Principal Member, tidak berupaya mengganti jaringan kartu yang sudah ada. Sebaliknya, perusahaan ini memanfaatkan infrastruktur Mastercard untuk memungkinkan saldo stablecoin digunakan di ratusan juta merchant di seluruh dunia. Strategi ini diambil agar adopsi stablecoin tidak perlu "menciptakan kembali roda" dalam ekosistem pembayaran global.
Efisiensi Likuiditas di Luar Jam Kerja Perbankan
Salah satu lompatan terbesar yang ditawarkan teknologi ini justru terjadi di balik layar, bukan hanya pada pengalaman pengguna. Penggunaan stablecoin memungkinkan proses settlement atau penyelesaian transaksi dilakukan pada akhir pekan dan hari libur nasional. Hal ini memecahkan masalah klasik perbankan tradisional yang sering terkendala waktu operasional (bank cut-off times).
Penyelesaian transaksi secara on-chain mampu mengurangi modal mengendap (trapped capital) bagi penerbit kartu hingga lebih dari 40 persen. Dalam skema tradisional, program kartu sering kali harus melakukan pendanaan di muka (pre-funding) atau meminjam dana dari jaringan saat bank tutup. Dengan stablecoin, fleksibilitas finansial ini meningkat drastis, sehingga perusahaan dapat mengalokasikan modal tersebut untuk kebutuhan bisnis lainnya.
Upaya Mastercard Menjadikan Blockchain "Invisible"
Mastercard terus memperdalam penetrasinya ke infrastruktur stablecoin melalui berbagai kemitraan strategis dengan pemain besar seperti PayPal, Ripple, dan Binance. Langkah paling agresif terlihat saat raksasa pembayaran ini mengakuisisi perusahaan infrastruktur stablecoin BVNK senilai USD 1,8 miliar (sekitar Rp 28,8 triliun). Fokus utamanya adalah membuat teknologi blockchain tidak terasa oleh konsumen akhir.
Christian Rau, Senior Vice President Digital Assets and Blockchain Mastercard, menegaskan bahwa adopsi massal bergantung pada kemudahan penggunaan. Pengguna saat ini hanya peduli pada kemudahan melakukan tap melalui iPhone atau Android tanpa perlu memikirkan proses on-chain di baliknya. "Tawaran bagi konsumen bukanlah 'pembayaran on-chain', melainkan kemampuan untuk membelanjakan aset apa pun secara real-time dengan perlindungan jaringan yang sudah mereka percaya," ujar Rau.
Di sisi lain, Ray Hernandez dari Consensys mencatat bahwa meski pertumbuhannya eksplosif, kartu stablecoin saat ini masih menyumbang kurang dari 1 persen dari total belanja kartu global. Mayoritas pengguna masih terbatas pada kelompok crypto-native yang sudah memiliki aset di dompet digital. Untuk mencapai tahap berikutnya, diperlukan infrastruktur pembayaran lokal yang lebih kuat dan penyederhanaan biaya jaringan (gas fees).
Tantangan dari Pendekatan Tanpa Perantara
Meskipun integrasi dengan jaringan kartu besar seperti Mastercard mempercepat adopsi, pendekatan ini tidak lepas dari kritik. Mark Zalan, CEO GoMining, berpendapat bahwa penggunaan infrastruktur kartu tradisional justru menambah perantara yang tidak perlu dalam ekosistem kripto. Menurutnya, visi asli kripto adalah memungkinkan pengguna memegang aset secara mandiri (self-custody) dan membelanjakannya secara langsung tanpa konversi ke mata uang fiat atau melalui jaringan pihak ketiga.
Namun, tren pasar saat ini menunjukkan arah yang berbeda. Sebagian besar merchant tetap menerima pembayaran dalam bentuk mata uang fiat, sementara proses konversi dari stablecoin terjadi secara instan di belakang layar. Model ini dianggap lebih aman bagi pedagang karena mereka terhindar dari risiko volatilitas harga kripto dan kerumitan manajemen transaksi on-chain secara langsung.
MetaMask juga mulai merambah strategi kartu melalui kerja sama dengan Mastercard dan Baanx. Produk ini memungkinkan pengguna membelanjakan aset langsung dari dompet self-custodial mereka, di mana konversi ke fiat hanya terjadi saat transaksi dilakukan. Inovasi-inovasi ini mempertegas bahwa masa depan pembayaran kripto bukan lagi tentang mengganti sistem yang ada, melainkan menyatu di dalamnya.