Pencarian

AirNav Indonesia Pastikan Kesiapan Hadapi Gangguan Sinyal Navigasi Pesawat, Ini 3 Lapisan Sistem Antisipasinya

Kamis, 21 Mei 2026 • 14:21:07 WIB
AirNav Indonesia Pastikan Kesiapan Hadapi Gangguan Sinyal Navigasi Pesawat, Ini 3 Lapisan Sistem Antisipasinya
AirNav Indonesia siapkan tiga lapisan sistem antisipasi gangguan sinyal navigasi pesawat.

TANGERANG — Fenomena gangguan sinyal satelit navigasi yang dikenal sebagai GNSS RFI (Radio Frequency Interference) sudah lama menjadi agenda keselamatan global. Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno menegaskan bahwa pihaknya telah mengimplementasikan prosedur standar yang komprehensif untuk menghadapi potensi gangguan ini di seluruh wilayah udara Indonesia.

"Penanganan GNSS RFI merupakan salah satu agenda keselamatan global yang dicanangkan oleh ICAO (International Civil Aviation Organization). Terkait ini, AirNav Indonesia telah melakukan antisipasi melalui penerapan prosedur standar yang komprehensif," ungkap Avirianto dalam pernyataan resmi yang diterima di Tangerang, Kamis.

Mengapa Sinyal Navigasi Pesawat Rentan Gangguan?

Sistem navigasi pesawat modern sangat bergantung pada sinyal dari konstelasi satelit navigasi global (GNSS). Masalahnya, sinyal yang mencapai permukaan bumi bekerja pada level daya yang sangat rendah. Akibatnya, gangguan frekuensi radio dari berbagai sumber di darat maupun udara—yang secara teknis disebut GNSS RFI—dengan mudah mengintervensi akurasi dan integritas data navigasi.

Untuk mengatasi kerentanan ini, sistem dirancang berlapis. Akurasi sinyal ditingkatkan melalui tiga jenis sistem augmentasi: berbasis pesawat (ABAS), berbasis darat (GBAS), dan berbasis satelit (SBAS).

3 Infrastruktur Darat yang Jadi Jaring Pengaman

Ketika sinyal satelit terganggu, AirNav Indonesia tidak hanya mengandalkan prosedur di kokpit. Perusahaan pelat merah ini mengoperasikan jaringan infrastruktur navigasi teresterial yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta FIR dan Makassar FIR, mencakup bandara utama hingga daerah terpencil. Tiga fasilitas utama yang menjadi andalan:

  • DVOR (Doppler VHF Omnidirectional Range) — Memancarkan sinyal radio VHF dari stasiun darat dengan jangkauan hingga 200 Nautical Miles. Fasilitas ini beroperasi sepenuhnya independen dari sinyal satelit dan memiliki akurasi lebih tinggi dibandingkan VOR konvensional.
  • DME (Distance Measuring Equipment) — Berfungsi mengukur jarak pesawat dari stasiun darat, memberikan data posisi yang presisi tanpa bergantung pada GPS.
  • ILS (Instrument Landing System) — Menjadi panduan utama saat pesawat akan mendarat, terutama dalam kondisi cuaca buruk atau ketika sinyal satelit tidak dapat diandalkan.

Avirianto menambahkan, ICAO telah merekomendasikan agar negara-negara anggota mempertahankan infrastruktur navigasi teresterial sebagai lapisan yang saling melengkapi dengan GNSS. "AirNav Indonesia telah mengimplementasikan ketentuan tersebut secara penuh," tegasnya.

Apa yang Berubah bagi Penerbangan di Indonesia?

Bagi penumpang pesawat, prosedur ini berarti standar keselamatan tetap terjaga meski ada gangguan sinyal. Pilot akan segera beralih ke sistem navigasi darat yang sudah teruji begitu indikasi GNSS RFI terdeteksi. Langkah ini memastikan rute penerbangan, jarak antar-pesawat, dan proses pendaratan tetap akurat tanpa perlu mengandalkan sinyal satelit yang terganggu.

Dengan jaringan fasilitas darat yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, AirNav Indonesia mengklaim kesiapan operasional tetap terjaga di tengah meningkatnya potensi interferensi frekuensi radio global.

Bagikan
Sumber: banten.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks