Pencarian

Penerimaan Bea Cukai Banten Tembus Rp4,55 Triliun hingga April 2026, Ditopang Cukai MMEA dan Tembakau

Jumat, 29 Mei 2026 • 18:58:01 WIB
Penerimaan Bea Cukai Banten Tembus Rp4,55 Triliun hingga April 2026, Ditopang Cukai MMEA dan Tembakau
Penerimaan Bea Cukai Banten mencapai Rp4,55 triliun hingga April 2026, didukung oleh cukai MMEA dan tembakau.

SERANG — Angka Rp4,55 triliun itu bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada pergerakan ribuan kontainer, lintasan kapal dagang, dan kepulan asap pabrik rokok serta minuman keras yang terus mengisi kas negara. Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil DJBC Kemenkeu Banten, Muhammad Hakim Satria, mengungkapkan bahwa tren positif ini didorong oleh target yang lebih agresif di tahun 2026.

Bea Masih Jadi Raja, Tapi Cukai Mulai Mendekat

Dari total penerimaan, Bea Masuk masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp3.385,52 miliar. Angka ini diraih meskipun terjadi penurunan importasi pada sejumlah komoditas utama seperti biji kakao, kimia dasar organik, makanan olahan, kapal laut, dan tembaga.

Namun, cerita yang lebih menarik datang dari sektor cukai. Pos ini menyumbang Rp1.156,53 miliar. Hakim menjelaskan, kinerja positif itu utamanya ditopang oleh cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) dan hasil tembakau. "Penerimaan cukai sampai dengan April 2026 meningkat dibanding tahun sebelumnya. Hal ini didorong oleh kenaikan target yang cukup signifikan di tahun 2026," katanya dalam keterangan di Serang, Jumat.

Bea Keluar Terguncang Harga Sawit Global

Berbeda dengan dua sektor sebelumnya, Bea Keluar hanya menyumbang Rp10,88 miliar. Angka yang relatif kecil ini sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas andalan ekspor Banten: kelapa sawit dan produk turunannya. Ketika harga sawit global merosot, penerimaan Bea Keluar ikut terseok.

Neraca Dagang Banten: Ekspor Tertekan, Impor Melonjak

Selain penerimaan, Hakim juga membeberkan kondisi neraca perdagangan Banten pada April 2026. Nilai ekspor tercatat sebesar 1,21 miliar dolar AS, sementara impor mencapai 4,37 miliar dolar AS. Defisit ini dipicu oleh pelemahan ekspor barang perhiasan, pesawat udara dan bagiannya, serta mesin keperluan khusus.

Sebaliknya, impor justru meningkat signifikan. Komoditas yang paling banyak masuk adalah hasil minyak, komputer dan perlengkapannya, serta peralatan komunikasi. Artinya, meski ekspor melambat, aktivitas industri dan konsumsi harian di Banten tetap berjalan—bahkan menggeliat—ditandai dengan derasnya barang modal dan bahan baku yang masuk melalui pelabuhan-pelabuhan utama di provinsi ini.

Angka yang Bercerita Tentang Roda Ekonomi

Realisasi Rp4,55 triliun hingga April 2026 ini menjadi indikator awal bahwa perekonomian Banten masih bergerak dinamis. Meski ada tekanan di sektor ekspor komoditas tertentu, kenaikan cukai dan bea masuk menunjukkan bahwa konsumsi dalam negeri dan aktivitas industri pengolahan masih kuat. Pertanyaannya kini: bisakah momentum ini bertahan hingga akhir tahun, atau justru akan tergerus oleh gejolak harga komoditas global yang tak menentu? Hanya waktu yang akan menjawab.

Bagikan
Sumber: banten.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks