Pencarian

Investasi Pesisir Kasemen Serang: Antara Reaktivasi Pelabuhan Rakyat dan Risiko Pembangunan Industri Besar

Rabu, 10 Juni 2026 • 13:30:01 WIB
Investasi Pesisir Kasemen Serang: Antara Reaktivasi Pelabuhan Rakyat dan Risiko Pembangunan Industri Besar
Pelabuhan Karangantu di Kasemen Serang menjadi fokus diskusi reaktivasi untuk mendukung ekonomi maritim.

SERANG — Perdebatan mengenai masa depan kawasan pesisir Kasemen, khususnya di Sawah Luhur, Kota Serang, kini memasuki babak kritis. Di satu sisi, investasi skala besar dianggap sebagai mesin pertumbuhan ekonomi dan pembuka lapangan kerja. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa pembangunan tersebut tidak selaras dengan nilai sejarah, karakter wilayah, dan keberlanjutan lingkungan yang telah menjadi identitas Banten.

Warisan Sejarah yang Jadi Modal Pembangunan

Kawasan Kasemen bukanlah sekadar pesisir biasa. Wilayah ini merupakan bagian integral dari Bumi Surosowan, pusat kejayaan Kesultanan Banten pada abad ke-16 hingga ke-18. Kala itu, kekuatan Banten tumbuh dari perdagangan maritim yang ditopang pelabuhan ramai dan sistem ekonomi yang melibatkan masyarakat luas.

“Pembangunan di kawasan Kasemen tidak semestinya hanya diukur dari besaran nilai investasi yang masuk,” ujar H. Wari Syadeli, M.Si, Dewan Mustasyar Masjid At-Taqwa FSPP, dalam pernyataan yang dikutip dari Ekbisbanten. Menurutnya, aspek historis, sosial, budaya, dan ekologis harus menjadi pertimbangan utama agar manfaat ekonomi tidak mengorbankan warisan peradaban.

Alternatif Reaktivasi Pelabuhan Rakyat Karangantu

Alih-alih membangun industri besar, para pengamat mendorong opsi reaktivasi pelabuhan rakyat di Karangantu. Secara historis, Karangantu merupakan pintu masuk perdagangan internasional yang menyimpan potensi ekonomi maritim yang signifikan.

Model pembangunan ini dinilai lebih dekat dengan karakter masyarakat pesisir. Selain memperkuat sektor perikanan, perdagangan hasil laut, dan logistik, reaktivasi pelabuhan rakyat juga bisa membuka ruang bagi usaha mikro serta pariwisata sejarah dan budaya.

“Pengembangan pelabuhan rakyat berpotensi memperkuat konektivitas perdagangan antardaerah sekaligus mendukung kawasan wisata religi dan sejarah yang menjadi daya tarik utama Kota Serang,” jelas Wari Syadeli.

Menimbang Risiko Lingkungan dan Partisipasi Publik

Setiap rencana investasi di kawasan pesisir menghadapi konsekuensi serius. Wilayah ini merupakan ruang hidup bagi nelayan, petambak, dan ekosistem pesisir yang memiliki fungsi ekologis strategis. Pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata tanpa kajian dampak lingkungan berpotensi menimbulkan persoalan baru di masa depan.

Wari Syadeli menekankan pentingnya partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan. “Masyarakat perlu memperoleh ruang yang cukup agar arah pembangunan benar-benar mencerminkan kebutuhan dan kepentingan mereka,” tegasnya.

Keseimbangan antara Investasi dan Jati Diri Banten

Kota Serang memang membutuhkan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, investasi yang masuk idealnya tidak hanya mengejar nilai ekonomi jangka pendek, melainkan juga memperkuat identitas daerah. Warisan sejarah Kesultanan Banten bukan sekadar aset budaya, melainkan modal pembangunan yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru melalui sektor maritim, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Diskusi mengenai masa depan Sawah Luhur tidak boleh berhenti pada pilihan antara menerima atau menolak investasi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan setiap kebijakan pembangunan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan penghormatan terhadap sejarah yang menjadi jati diri Banten.

Bagikan
Sumber: ekbisbanten.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks