BANTEN — Keputusan FIFA yang membatalkan larangan bermain Folarin Balogun setelah kartu merah kontroversial melawan Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar Piala Dunia terus bergulir menjadi badai. Striker Monaco itu akhirnya bisa tampil di babak 16 besar saat AS kalah dari Belgia, tapi dampaknya jauh lebih besar dari sekadar hasil pertandingan.
Balogun sendiri mengaku sudah menduga bahwa keterlibatan Trump akan memicu polemik besar. "Reaksi awal saya senang bisa kembali ke tim, tapi saat mulai merenung, saya tahu ini akan menimbulkan banyak kontroversi," ujarnya kepada CBS. Ia bahkan melihat kegelisahan di antara rekan setimnya karena situasi yang sangat tidak lazim ini.
Keputusan Sepihak yang Tak Pernah Terjadi Sebelumnya
Laporan dari The Times mengungkap fakta mengejutkan: Ketua Komite Disiplin FIFA, Mohammad Al Kamali, mengambil keputusan untuk menangguhkan larangan bermain Balogun seorang diri. Ini adalah pertama kalinya Al Kamali menjadi arbiter tunggal dalam kasus disiplin yang dipublikasikan. FIFA sendiri belum memberikan penjelasan resmi soal alasan di balik penangguhan hukuman tersebut.
Balogun tetap bersikukuh bahwa kartu merah yang diterimanya akibat tekel pada Tarik Muharemovic adalah keputusan keliru. "Saya kaget. Itu bahkan bukan sebuah tekel. Saya benar-benar shock," katanya. "Ketika sesuatu tidak disengaja, seharusnya itu tidak pernah jadi kartu merah."
FairSquare Layangkan Protes ke IOC, Tuduh Infantino Langgar Netralitas
Organisasi hak asasi manusia FairSquare resmi mengajukan keluhan ke Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada Selasa (15/4). Mereka menuding Presiden FIFA Gianni Infantino telah melanggar aturan netralitas politik dalam penanganan kasus Balogun. Infantino, yang menjadi anggota IOC sejak 2020, dituding terlalu dekat dengan Trump yang secara terbuka mengakui campur tangannya.
Dalam keluhannya, FairSquare mendeteksi setidaknya lima pelanggaran jelas terhadap aturan netralitas politik IOC, ditambah bukti awal dua pelanggaran serius lainnya. Sebelumnya, pada Desember lalu, FairSquare juga melayangkan keluhan serupa ke Komite Etik FIFA. Federasi sepak bola Norwegia dan 50 anggota Parlemen Eropa ikut mendesak Komite Etik FIFA untuk menindaklanjuti laporan tersebut.
Balogun mengakui tekanan dari "kebisingan luar" sangat sulit dihindari menjelang laga kontra Belgia. "Semakin dekat ke pertandingan, saya mencoba fokus sebaik mungkin, tapi itu sulit. Banyak gangguan dari luar," ucapnya. Kekalahan dari Belgia mengakhiri perjalanan AS di Piala Dunia, namun kontroversi yang ditinggalkan masih jauh dari usai.