TANGERANG SELATAN — Kota Tangerang Selatan masuk dalam tiga besar regional Jawa-Bali untuk kategori penanggulangan kemiskinan dan penurunan stunting versi Kementerian Dalam Negeri. Pencapaian ini diumumkan dalam ajang penghargaan yang digelar di Jakarta, menempatkan Tangsel di bawah Kota Surabaya dan Kota Denpasar.
Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan evaluasi komprehensif terhadap kinerja pemerintah daerah dalam menekan angka kemiskinan ekstrem dan mempercepat penurunan prevalensi stunting. Kedua indikator ini menjadi prioritas nasional yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Angka Stunting Tangsel: Di Bawah Rata-Rata Nasional
Berdasarkan data yang disampaikan Pemkot Tangsel, prevalensi stunting di kota ini berada di angka 6,3 persen pada tahun 2024. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata nasional yang masih berkisar 21,5 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terbaru.
Penurunan ini tidak terjadi dalam semalam. Pemkot Tangsel menggencarkan intervensi spesifik dan sensitif di tingkat kelurahan, termasuk optimalisasi posyandu dan pemberian makanan tambahan bagi balita berisiko. Program ini menyasar 7 dari 54 kelurahan yang sebelumnya masuk zona merah stunting.
Kemiskinan Ekstrem: Target Nol Persen di 2025
Di sisi lain, angka kemiskinan ekstrem di Tangerang Selatan tercatat terus menurun dalam dua tahun terakhir. Pemkot menargetkan angka tersebut bisa menyentuh nol persen pada tahun 2025 melalui perluasan program bantuan sosial dan pemberdayaan ekonomi berbasis kelurahan.
“Ini hasil kerja bersama antara dinas, kecamatan, dan kelurahan. Bukan hanya soal data, tapi bagaimana program benar-benar menyentuh warga yang membutuhkan,” ujar perwakilan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tangsel dalam keterangan resmi.
Penghargaan Bukan Sekadar Seremoni
Penghargaan dari Kemendagri ini bukan sekadar seremoni. Bagi daerah yang masuk tiga besar, ada konsekuensi lanjutan berupa pendampingan teknis dan insentif anggaran dari pemerintah pusat. Ini menjadi modal bagi Tangsel untuk mempertahankan tren positif sekaligus mengejar ketertinggalan dari Surabaya dan Denpasar di puncak klasemen.
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, dalam beberapa kesempatan sebelumnya menekankan bahwa penurunan stunting dan kemiskinan harus berjalan beriringan. “Tidak bisa hanya fokus pada satu sisi. Anak stunting lahir dari keluarga miskin, dan keluarga miskin sulit keluar dari jerat kemiskinan jika anaknya stunting. Ini lingkaran yang harus diputus,” katanya.
Yang Perlu Diperbaiki: Ketimpangan Antar-Kelurahan
Meski capaian secara agregat membanggakan, data internal Pemkot menunjukkan masih ada ketimpangan antar-kelurahan. Beberapa kelurahan di Kecamatan Pondok Aren dan Ciputat Timur masih memiliki angka kemiskinan di atas rata-rata kota. Pemkot tengah menyusun peta jalan baru yang lebih spesifik per kelurahan untuk tahun anggaran 2025.
Dengan masuknya Tangsel ke jajaran tiga besar regional Jawa-Bali, tekanan kini beralih ke konsistensi. Tahun depan, kota ini harus mempertahankan—atau bahkan memperbaiki—posisinya jika ingin naik ke peringkat pertama.