BANTEN — Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah AS melancarkan serangan ke Iran pekan ini. Berdasarkan data Trading Economics, serangan tersebut dilaporkan mengenai sebuah kapal tanker minyak di dekat terminal ekspor utama Iran untuk pertama kalinya sejak blokade pelabuhan kembali diberlakukan. Presiden AS Donald Trump pun memperingatkan potensi serangan lanjutan.
"AS dapat menargetkan infrastruktur Iran minggu depan jika upaya diplomatik tidak menghasilkan terobosan," ujar Trump.
Ancaman Penutupan Selat Bab el-Mandeb dan Dampaknya ke Pasokan
Menanggapi ancaman Washington, Teheran disebut menginstruksikan pemberontak Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab el-Mandeb jika infrastruktur listrik mereka diserang. Selat ini merupakan jalur vital bagi ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah. Akibat eskalasi ini, lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz—jalur energi paling strategis di dunia—dilaporkan menurun drastis, meski beberapa kapal masih terpantau melintas.
Saham Energi RI: Antara Katalis Positif dan Beban Subsidi
Bagi pasar saham Indonesia, lonjakan harga minyak ini menjadi katalis positif yang dinantikan. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) berpotensi mengalami akumulasi beli. Kenaikan harga jual rata-rata (ASP) minyak mentah diproyeksikan mendongkrak pendapatan emiten-emiten tersebut.
Namun, di sisi lain, lonjakan ini menjadi alarm bagi APBN. Status Indonesia sebagai net oil importer membuat beban subsidi BBM berpotensi membengkak jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama.
Dampak Global: Rupiah dan IHSG dalam Tekanan
Kekhawatiran pasar tak hanya berhenti di sektor energi. Dalam berita terkait, aksi jual saham AI global turut menyeret indeks Hang Seng dan menekan IHSG. Sementara itu, rupiah justru berada di atas angin setelah indeks dolar AS loyo tertekan data inflasi AS. Investor kini mencermati perkembangan diplomatik AS-Iran sebagai penentu arah harga minyak pekan depan.