BANTEN — Level Rp 17.724 per dolar AS tersebut merupakan titik terlemah yang pernah dicatatkan rupiah dalam sejarah. Sepanjang tahun ini, mata uang Garuda sudah terdepresiasi sebesar 6,25% terhadap greenback.
Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Melemah
Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga terpantau melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,74%, disusul baht Thailand yang turun 0,18%, dan yen Jepang melemah 0,08%.
Pelemahan juga terjadi pada rupee India (0,04%), yuan China (0,01%), dan dolar Singapura (0,09%). Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan yang menekan mata uang kawasan.
Sentimen Global Reda, Fokus ke Kebijakan BI
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan, meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran sempat meredakan kekhawatiran pasar global. Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran, yang memberikan sedikit ruang bagi penguatan rupiah.
"Rupiah masih berpotensi menguat meski terbatas," ujar Lukman. Namun, ia menambahkan bahwa pelaku pasar tetap mencermati kondisi domestik yang dinilai masih lemah.
Ekspektasi Kenaikan BI Rate Membayangi
Faktor domestik utama yang menjadi perhatian investor adalah hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Pasar memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Menurut Lukman, ekspektasi kenaikan suku bunga ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi. Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Investasi mengandung risiko.