Pencarian

Rupiah Terjun ke Rp17.844 per Dolar AS, Melemah Bersama Mata Uang Asia Lain

Senin, 01 Juni 2026 • 10:18:01 WIB
Rupiah Terjun ke Rp17.844 per Dolar AS, Melemah Bersama Mata Uang Asia Lain
Rupiah melemah ke level Rp17.844 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pagi ini.

BANTEN — Mata uang Garuda turun 0,21 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri—hampir seluruh mata uang Asia kompak tertekan pada pembukaan pagi ini. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,71 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,18 persen, dan baht Thailand yang turun 0,17 persen.

Mata uang utama negara maju juga berada di zona merah. Euro Eropa melemah 0,12 persen, franc Swiss turun 0,27 persen, sementara poundsterling Inggris dan dolar Australia sama-sama melemah tipis 0,01 persen.

Perang Dagang AS-Iran dan Inflasi Jadi Pemicu Utama

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari dua faktor utama. Pertama, ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih limbung. Kedua, antisipasi pasar terhadap rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang akan diumumkan besok.

"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," kata Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6). Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.750 per dolar AS hingga Rp17.800 per dolar AS pada hari ini.

Di sisi lain, harga minyak yang sudah mulai menurun dinilai bisa menjadi sentimen positif yang mendukung penguatan rupiah ke depannya.

BI: Kebutuhan Valas Musiman dan Konflik Global Jadi Beban

Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, konflik di Timur Tengah yang masih berlanjut menjadi sumber utama ketidakpastian global.

"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5).

Selain itu, BI mencatat adanya peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman. Kebutuhan ini berasal dari pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen, sementara arus masuk dolar AS ke dalam negeri masih terbatas.

Intervensi BI: Hadir di Pasar 24 Jam

Menghadapi situasi ini, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ramdan menyatakan bahwa bank sentral terus hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi.

"Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," ujar Ramdan.

Pernyataan ini menegaskan bahwa BI tidak akan tinggal diam meskipun tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik yang kompleks. Pelaku pasar disarankan untuk mencermati rilis data inflasi besok sebagai indikator arah kebijakan moneter selanjutnya.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks