SERANG — Enam pilar tujuan strategis organisasi dirumuskan dalam pertemuan pembentukan Himpunan Pengusaha Difabel Indonesia (HIPADI) Banten, Minggu (25/5/2026). Langkah ini dinilai sebagai respons atas kebutuhan mendesak akan ekosistem bisnis yang aksesibel bagi pengusaha difabel di provinsi tersebut.
Pertemuan yang digelar di Serang itu dihadiri oleh Bagja Kudrata, Muhamad Yusuf, Ade Isma Soleha, Muhamad Alif Pratama, Maman Sulaeman, dan Athallah Wafi. Organisasi ini secara struktural menginduk kepada organisasi Sahabat Difabel.
Enam Pilar untuk Mengubah Stigma
Dalam pertemuan tersebut, enam pilar strategis dirumuskan. Pertama, pembangunan ekosistem kewirausahaan inklusif. Kedua, advokasi kebijakan dan aksesibilitas. Ketiga, peningkatan kapasitas dan kompetensi anggota.
Keempat, membangun jejaring dan kemitraan strategis. Kelima, mendorong kemandirian ekonomi. Keenam, upaya masif mengubah stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas.
Subjek Pembangunan, Bukan Objek
Bagja Kudrata, yang menjadi narasumber dalam pertemuan itu, menekankan bahwa HIPADI hadir untuk memastikan pengusaha disabilitas menjadi subjek pembangunan ekonomi.
"Tujuan kita jelas, yakni membangun kemandirian ekonomi. HIPADI hadir untuk memastikan bahwa pengusaha disabilitas bukan lagi menjadi objek, melainkan subjek pembangunan ekonomi yang produktif, kreatif, dan inovatif," ujar Bagja Kudrata.
Fokus pada Akses Permodalan dan Kemitraan
Ke depan, HIPADI Banten akan fokus pada penguatan posisi tawar anggotanya. Organisasi ini mendorong kolaborasi dengan pemerintah maupun sektor swasta, termasuk BUMN dan BUMS.
Selain itu, HIPADI juga akan memperjuangkan kemudahan akses permodalan dan insentif bagi para pengusaha difabel. Dengan terbentuknya organisasi ini, para pengusaha difabel di Banten diharapkan lebih terorganisir dan mandiri secara ekonomi.