PURWOKERTO — Suasana haru dan sesekali gelak tanya bercampur di sebuah ruang pertemuan di Purwokerto, Jumat pekan lalu. Bukan sidang atau mediasi, melainkan pertemuan antara manajemen Bank Mandiri Taspen dan puluhan orang yang mengaku sebagai korban penipuan investasi yang melibatkan mantan pegawai mereka sendiri, N alias D (36).
Bukan Sekadar Menerima Pengaduan
Alih-alih hanya membuka meja pengaduan, bank yang fokus pada segmen pensiunan ini justru mengajak para korban duduk bersama. Distribution Head 5 (Jateng-DIY) Bank Mandiri Taspen, I Putu Agus Sinom Artawan, mengatakan pihaknya menyambut aspirasi para korban sekaligus memberikan edukasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
"Kami membuka ruang komunikasi dengan para korban sekaligus memberikan edukasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Perlindungan nasabah menjadi komitmen utama kami," katanya di Purwokerto.
Kerugian Capai Rp 25 Miliar, Polisi Buru Aliran Dana
Kasus ini terbilang besar. Polresta Banyumas mencatat total kerugian korban diperkirakan mencapai Rp 25 miliar dengan jumlah korban lebih dari 100 orang. Hingga saat ini, baru 25 orang yang melapor dengan total kerugian sekitar Rp 5 miliar.
Kasatreskrim Polresta Banyumas AKP Ardi Kurniawan menyebut pihaknya akan mengembangkan penyidikan ke dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) untuk menelusuri aliran dana. Tersangka N alias D sendiri telah ditahan sejak 7 Juni 2026 dan dijerat pasal dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun penjara.
Dari Trauma Jadi Agen Literasi
Dalam pertemuan itu, para korban tidak hanya mendengarkan. Mereka diajak mengikuti sesi literasi keuangan yang dipandu Department Head Operation Customer Experience Bank Mandiri Taspen, Andi Prasetyo Nugroho. Materinya mulai dari mekanisme kredit yang benar, ciri-ciri investasi legal, hingga modus-modus terbaru investasi bodong.
Hasilnya, para nasabah dan pihak bank sepakat untuk bersama-sama melawan praktik serupa. Mereka bahkan berinisiatif mengajak keluarga masing-masing untuk lebih proaktif melindungi orang tua dan anggota keluarga lainnya dari penipuan berkedok investasi.
"Kami mengajak seluruh keluarga untuk saling mengingatkan dan melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum memutuskan berinvestasi. Jangan mudah tergiur imbal hasil tinggi yang tidak masuk akal," kata Sinom.
Lansia Jadi Sasaran Utama, Bank Perluas Program
Sinom menekankan bahwa keterlibatan keluarga menjadi faktor penting, terutama untuk kelompok lanjut usia yang kerap menjadi sasaran empuk pelaku investasi ilegal. Bank Mandiri Taspen berencana memperluas program edukasi serupa ke sembilan wilayah distribusi di bawah koordinasi perusahaan.
Selain sesi literasi, acara itu juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan gratis dan program Jumat Berkah bersama Komunitas Mantap Indonesia. Sebuah pengingat bahwa di balik angka kerugian miliaran rupiah, ada manusia yang perlu dipulihkan—tidak hanya secara finansial, tapi juga kepercayaan.