BANTEN — Pasar obligasi pemerintah justru menunjukkan sinyal berbeda. Intervensi otoritas moneter masih terlihat di pasar Surat Utang Negara (SUN) pagi ini, mendorong penurunan yield di hampir seluruh tenor. Penurunan paling dalam terjadi di tenor pendek, dengan yield SUN tenor 1 tahun ambles 16,8 basis poin (bps) ke level 6,9%.
Yield SUN Tertekan di Tengah Aksi Jual Asing
Penurunan yield juga terjadi di tenor acuan 10 tahun yang turun tipis 0,2 bps ke 7,23%, sementara tenor 11 tahun turun 3 bps ke 7,28%. Tenor 3 tahun ikut terkoreksi 1,5 bps menjadi 7,17%. Kondisi ini menunjukkan masih ada permintaan domestik yang kuat terhadap surat utang negara.
Namun, data Bloomberg mencatat investor asing masih dalam posisi jual. Pada Selasa (14/7/2026), asing mencatat penjualan bersih di pasar obligasi senilai US$75,4 juta. Di pasar saham, aksi jual asing juga berlanjut dengan nilai US$8,44 juta pada hari yang sama, menandai delapan hari beruntun net sell di bursa efek.
Dolar AS dan Minyak Kembali Beri Tekanan
Pelemahan rupiah yang relatif terbatas pagi ini tidak lepas dari faktor eksternal. Indeks dolar AS (DXY) kembali bertenaga dengan menguat 0,03% ke level 100,51. Di saat yang sama, harga minyak mentah masih melambung di US$85,25 per barel, menekan mata uang negara importir minyak seperti Indonesia.
“Kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena memperburuk proyeksi defisit neraca perdagangan dan mendorong kebutuhan dolar untuk impor energi,” demikian analisis yang tertera dalam laporan Bloomberg Technoz.
Mata Uang Kawasan Relatif Stabil
Di tengah tekanan terhadap rupiah, mayoritas mata uang Asia justru bergerak di zona hijau. Dolar Taiwan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,2%, disusul won Korea Selatan yang naik 0,16%, dan ringgit Malaysia yang menguat 0,15%. Pelemahan hanya terjadi terbatas pada peso Filipina, baht Thailand, dan yen Jepang.
Pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat tergantung pada pergerakan harga minyak global dan respons kebijakan Bank Indonesia dalam menstabilkan kurs melalui instrumen obligasi. Investor disarankan mencermati data cadangan devisa dan keputusan suku bunga acuan pada akhir bulan ini.