Pencarian

Harga EV di Indonesia Mulai Merangkak Naik, BYD Atto 1 hingga Wuling Air ev Terdampak

Jumat, 19 Juni 2026 • 23:39:31 WIB
Harga EV di Indonesia Mulai Merangkak Naik, BYD Atto 1 hingga Wuling Air ev Terdampak
Harga BYD Atto 1 naik menjadi Rp199 juta pada Februari 2026 seiring berakhirnya insentif fiskal.

BANTEN — Fenomena ini menandai berakhirnya periode diskon agresif yang mewarnai pasar kendaraan listrik nasional selama dua tahun terakhir. Produsen mulai menyesuaikan strategi harga seiring berakhirnya berbagai insentif fiskal dari pemerintah.

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai perubahan ini sebagai fase normalisasi pasar. “Era perang harga EV mulai reda, tetapi belum sepenuhnya berakhir. Fase 2024-2025 adalah masa penetrasi agresif, ketika produsen China memakai diskon, bundling, dan harga rendah untuk merebut pangsa pasar,” ujarnya kepada KabarBursa.com, Jumat (19/6).

Kenaikan Harga Beberapa Model EV di Indonesia

Sepanjang 2026, setidaknya empat model mencatat penyesuaian harga:

  • BYD Atto 1 Dynamic: dari Rp195 juta menjadi Rp199 juta (Februari 2026)
  • Chery Omoda E5 Pure: dari Rp369,9 juta menjadi Rp379,9 juta
  • Wuling Air ev: dari Rp206 juta menjadi Rp214 juta
  • Geely EX2 Pro: dari harga promosi Rp229,9 juta menjadi harga reguler Rp239,9 juta (April 2026)

Insentif Berakhir, Beban Investasi Produksi Lokal Menguat

Pemicu utama perubahan ini adalah penghentian fasilitas impor completely built up (CBU) pada akhir 2025. Produsen yang sebelumnya mendapat kuota impor kini diwajibkan membangun fasilitas produksi lokal atau completely knocked down (CKD) pada periode 2026-2027.

Konsekuensinya, struktur biaya berubah drastis. Selain kehilangan keringanan fiskal, perusahaan harus menggelontorkan investasi baru untuk rantai produksi dalam negeri. Belum lagi tekanan aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang menetapkan batas minimal 40 persen pada 2026.

“Berakhirnya insentif CBU impor, tuntutan TKDN, biaya logistik, dan kebutuhan produksi lokal membuat harga murah ekstrem yang lama menjadi sulit dipertahankan,” kata Yannes.

Perang Harga Berubah Bentuk, Bukan Berakhir

Meski diskon besar-besaran mulai ditinggalkan, Yannes menilai persaingan di pasar EV belum usai. Ia memprediksi gelombang baru merek low cost EV akan masuk dan menggerus pasar LCGC milik pabrikan Jepang di kota-kota besar.

“Jadi, perang harga berubah dari diskon destruktif menjadi perang nilai, garansi, fitur, pembiayaan, dan layanan 3 S (sales-service-spareparts),” ujarnya.

Di tingkat global, produsen China mulai mengalihkan fokus dari perebutan volume penjualan ke pemulihan margin keuntungan. Langkah strategis seperti membangun pabrik di negara tujuan ekspor, termasuk Indonesia, menjadi prioritas untuk menekan biaya logistik dan mengurangi risiko hambatan perdagangan.

Bagikan
Sumber: kabarbursa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks