BANTEN — WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Sebuah kendaraan investasi swasta bernilai 300 miliar dollar AS atau sekitar Rp 5.328 triliun dirancang untuk menggerakkan kembali perekonomian Iran pascakonflik. Jumlah ini melampaui pagu belanja negara Indonesia dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang sebesar Rp 3.842,73 triliun.
Seorang sumber yang mengetahui langsung perjanjian tersebut mengungkapkan kepada Reuters, Senin (16/6/2026), bahwa lebih dari separuh dana telah mendapat komitmen dari investor global. Sumber itu berbicara dengan syarat anonim karena rencana ini belum diumumkan secara resmi.
Skema Investasi Murni Swasta Tanpa Dana Pemerintah
Sumber tersebut menegaskan bahwa dana baru ini merupakan kendaraan investasi swasta, bukan program rekonstruksi atau reparasi perang. “Dana itu hanya akan dibentuk setelah perjanjian final ditandatangani,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dana tersebut tidak akan menyertakan uang pemerintah atau hibah dalam bentuk apapun. Selama 60 hari ke depan, para administrator dana akan bekerja bersama pihak Iran dan para investor untuk merencanakan serta memetakan proyek-proyek yang akan dibiayai.
Sektor Energi dan Logistik Jadi Sasaran Utama Investasi
Komitmen investasi disebutkan telah mengalir dari perusahaan-perusahaan di kawasan Teluk Arab, Asia, Amerika Selatan, dan Afrika. Sumber tersebut menyebut nama-nama negara seperti Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Amerika Serikat telah menyatakan partisipasi, meski enggan merinci daftar lengkapnya.
Investasi yang dijanjikan mencakup sektor energi, logistik, manufaktur, dan transportasi. Sektor-sektor ini dipandang krusial untuk memulihkan infrastruktur Iran yang terdampak perang serta membuka kembali jalur perdagangan internasional.
Kesepakatan Damai Jadi Prasyarat Eksekusi Dana
Washington dan Teheran dijadwalkan menandatangani kesepakatan final pada Jumat (19/6/2026). Sebelumnya, pada Minggu (15/6/2026), kedua pihak mengumumkan telah mencapai kerangka kesepakatan untuk mengakhiri perang yang pecah pada 28 Februari akibat serangan AS dan Israel ke Teheran.
Kesepakatan itu juga mencakup penghentian blokade AS terhadap Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur pasokan vital bagi perdagangan minyak dan gas dunia yang selama konflik lumpuh total.
Dengan skema pendanaan yang sepenuhnya swasta, Iran diharapkan dapat menarik modal asing tanpa membebani anggaran negara. Namun, realisasi dana tersebut tetap bergantung penuh pada implementasi perjanjian damai yang akan diteken akhir pekan ini.