BANTEN — Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera dalam beberapa waktu terakhir meninggalkan kerusakan parah di sejumlah titik. Jalan terputus, tanggul jebol, dan saluran air tersumbat material longsor menjadi pemandangan umum. Kondisi ini memaksa pemerintah dan BUMN karya bergerak cepat.
Fokus pada Drainase dan Tebing Kritis
Brantas Abipraya, yang ditunjuk sebagai kontraktor utama, memusatkan pekerjaan pada normalisasi sungai dan perbaikan drainase di daerah rawan genangan. Di beberapa lokasi, tim juga melakukan pemasangan bronjong untuk menahan tebing yang labil. "Prioritas kami adalah mengembalikan fungsi infrastruktur pengendali banjir agar masyarakat tidak terus-terusan waspada," ujar Project Manager Brantas Abipraya di lokasi, Selasa (15/4).
Pekerjaan ini tidak hanya bersifat darurat. Sejumlah titik longsor di jalur penghubung antarkabupaten juga tengah diperlebar dan diperkuat dengan turap beton. Tujuannya, agar kapasitas jalan kembali optimal dan risiko longsor susulan bisa diminimalkan.
Dampak Langsung ke Aktivitas Warga
Pemulihan akses jalan menjadi yang paling dirasakan warga. Sebelum diperbaiki, truk pengangkut hasil pertanian dan perkebunan harus memutar hingga puluhan kilometer. "Dulu butuh waktu hampir dua jam untuk sampai ke pasar, sekarang sudah bisa lewat jalur normal lagi," ujar seorang petani kopi di Agam.
Selain itu, perbaikan tanggul di beberapa desa juga membuat warga yang sempat mengungsi kini mulai berani kembali ke rumah mereka. Pemerintah daerah setempat mencatat, setidaknya 2.000 jiwa terdampak langsung oleh kerusakan infrastruktur di dua provinsi tersebut.
Kejar Target Sebelum Musim Kemarau
Kementerian PU menargetkan mayoritas pekerjaan darurat rampung dalam dua bulan ke depan. Hal ini penting mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di peralihan musim. Brantas Abipraya mengerahkan alat berat dan personel tambahan untuk mempercepat progres di lapangan.
Perusahaan pelat merah ini juga berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memastikan material dan logistik tidak terhambat. Jika cuaca mendukung, seluruh titik kritis di Sumatera Barat dan Sumatera Utara ditargetkan selesai sebelum akhir semester pertama 2025.
Pemulihan infrastruktur pascabencana menjadi salah satu ujian bagi BUMN karya dalam merespons situasi darurat. Kecepatan dan kualitas kerja di Sumatera akan menjadi tolok ukur kesiapan mereka menghadapi potensi bencana serupa di wilayah lain.